xxx

Wednesday, 22 January 2020

Review Game Komputer PC Pillars of Eternity II Deadfire

Game Pillars of Eternity II Deadfire

Bagi para gamer yang penggemar review game komputer PC (Personal Computer) Pillars of Eternity yang bergenre RPG (Role Playing Game) barat yang klasik dan berfokus kepada sensasi role-playing yang sesungguhnya ala seperti game Dungeons & Dragons. Kemudian dalam beberapa tahun terakhir ini memang akan menjadi tahun yang sangat membahagiakan. Ketika banyak game RPG (Role Playing Game) mulai melebur menjadi genre action di dalamnya untuk mendapatkan sensasi dari permainan yang intens serta menegangkan. Beberapa dari judul game tetap bertahan dengan pendekatan yang justru telah lebih mendorong dari sisi role-playing game yang ada. Hasilnya adalah tercipta sebuah game yang telah membuka ruang untuk dapat begitu banyak yang mendekati gameplay, bahkan beberapa di antara game-nya telah menawarkan suatu kebebasan yang bahkan nyaris mutlak untuk dapat membangun cerita Anda sendiri. Salah satu judul game yang sempat tampil mempesona dalam beberapa tahun lalu, yaitu ada game Pillars of Eternity. Kesuksesan dari seri pertama game-nya dari sisi kritik serta penjualan yang pada akhirnya telah melahirkan seri sekuel yang akan mendapatkan sub-judul game “Deadfire”.

Lahir dari seorang tangan dingin bernama Obsidian Entertainment yang telah memiliki sepak terjang yang panjang dan melahirkan game-game bergenre RPG (Role Playing Game) yang berkualitas, seperti: game Pillars of Eternity II: Deadfire lahir sebagai seri dari game sekuel langsung yang dari seri pertamanya. Ia tidak hanya lebih dari sekedar untuk mendorong dari sisi cerita saja, tetapi juga telah hadir dengan mekanik dari seri gameplay baru serta juga penyempurnaan di dalam beberapa aspek dari gameplay. Hasilnya adalah terlahir sebuah game RPG (Role Playing Game) yang sangat terasa familiar, tetapi tetap dapat menawarkan sesuatu hal yang baru serta dapat menyegarkan untuk para gamer yang telah menikmati seri pertama game Pillars of Eternity, misalnya. Di dalam game Deadfire tidak lagi menjadikan suatu daratan sebagai “arena bermain”, melainkan suatu lautan yang luas sebagai perpanjangan dari semesta alam dunia yang telah ada.

Lalu, apa yang sebenarnya telah ditawarkan oleh game Pillars of Eternity II: Deadfire ini? Mengapa para gamer menyebutnya sebagai suatu pendekatan game Pillars of Eternity II: Deadfire baru yang lebih terlahir dengan sempurna? Review dari game Pillars of Eternity II: Deadfire ini akan membahasnya secara lebih dalam untuk para gamer.

Plot
Seperti yang telah kami bicarakan sebelumnya, game Pillars of Eternity II: Deadfire merupakan seri dari game sekuel yang langsung dari seri game Pillars of Eternity pertama. Kami telah merekomendasikan Anda untuk dapat memainkan serta menikmati seri pertama game Pillars of Eternity terlebih dahulu sebelum melompat kepada seri kedua game Pillars of Eternity II: Deadfire ini, walaupun para gamer yang “malas” tetap dapat mengandalkan prolog di awal certia yang akan memberikan lebih sedikit suatu gambaran apa yang telah terjadi dalam cerita seri game Pillars of Eternity sebelumnya. Salah satu keuntungan apabila Anda telah memainkan seri pertama game Pillars of Eternity? Para gamer bisa menggunakan save data game yang sama untuk dapat melanjutkan cerita game, menggunakan beberapa karakter yang sama, serta dapat melihat bagaimana pilihan dari para gamer di seri pertama game Pillars of Eternity akan mempengaruhi beberapa kondisi dalam seri kedua game Pillars of Eternity II ini.
Anda sebagai gamer akan kembali berperan sebagai seorang “The Watcher” – yang merupakan karakter dari seorang yang memiliki kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan para roh arwah serta membaca ingatan mereka. Seri game Deadfire mengambil timeline dalam masa 5 tahun setelah seri game yang pertama, di mana pertarungan yang terakhir Anda ternyata tidak dapat membuat dunia menjadi damai begitu saja. Eothas – yang merupakan dewa cahaya serta kelahiran kembali dan tiba-tiba hidup sebagai seorang raksasa bangkit dari reruntuhan suatu kastil alwas Anda – yaitu kastil yang bernama Caed Nua. Eothas sepertinya memiliki suatu misi yang sangat misterius mengingat ia telah bergerak ke lokasi yang spesifik sembari menyerap semua roh atau nyawa dari semua tempat yang telah ia lewati. Ia berputar di sekitar Deadfire, yang merupakan sebuah gugus dari kepulauan dengan kultur budaya yang sangat berbeda dari tempat-tempat di dalam seri pertama game Pillars of Eternity.

Dengan kondisi yang sangat genting seperti ini, para dewa yang lainnya akan merasa terusik dengan kelakuan seorang dewa Eothas, terutama yang mengingat mereka juga tidak akan tahu apa yang sebenarnya telah ia rencanakan. Berath – yang merupakan dewa kematian pun dapat menghidupkan Anda kembali serta melemparkan Anda ke dalam Deadfire dengan satu misi yang sangat jelas, mencari tahu apa yang sebenarnya akan dikejar oleh dewa Eothas serta menimbang atau menentukan apakah sebuah tindakan yang tegas perlu untuk segera dieksekusi atau pun tidak. Melewati suatu proses eksplorasi yang telah Anda lakukan, Anda dapat melihat bahwa dewa Eothas akan bergerak menuju ke suatu sumber energi bernama Adra, yang telah tersimpan di dalam suatu kristal-kristal besar yang tersebar di daerah Deadfire.
Lalu, apa yang sebenarnya telah memicu kehadiran dewa Eothas? Apa yang akan hendak ia lakukan? Mampukah Anda sebagai gamer menghentikannya ataukah justru, mendukung apa yang Eothas kejar begitu Anda telah mendengar cerita serta motivasinya? Semua kemungkinan jawaban akan tercipta dari ragam cerita skenario ini bisa Anda dapatkan dengan cara memainkan game Pillars of Eternity II: Deadfire.

Dunia yang Berbeda
Suatu pendekatan yang telah ditawarkan oleh Obsidian dengan seri kedua dari game Pillars of Eternity ini memang dapat dibilang, akan terasa sangat menyegarkan. Alih-alih dapat bertahan dengan dunia dalam seri pertama game Pillars of Eternity yang memang lebih condong kepada arah masyarakat yang medieval pada masa lampau namun juga dengan ras serta ekstra monster di dalam beberapa sudut yang telah ada, Anda kini dapat bertemu dengan suatu gugusan kepulauan dengan ras serta gaya hidup yang berbeda-beda. Inspirasinya sepertinya jelas telah mengakar pada para penduduk Polynesia. Sebagai konsekuensinya? Anda harus bisa membiasakan diri untuk dapat mengenali serta mengingat beragam banyak istilah, nama suku, nama karakter, sampai dengan beragam istilah upacara yang sudah tentu saja berbeda dengan dunia di dalam seri game Pillars of Eternity pertama. Fakta bahwa daerah Deadfire juga dihuni oleh banyak faksi yang bisa saling berseberangan juga dapat membuat proses dari yang satu ini akan lebih sulit. Butuh beberapa waktu untuk dapat mengenali dunianya, yang sudah tentu saja, menuntut Anda untuk dapat membaca serta lebih memahami setiap percakapan yang akan muncul.

Apabila dilihat dari sisi presentasi visual serta audio, game Pillars of Eternity memang tidak akan pernah menjadikan hal tersebut sebagai suatu fokus utama. Dengan adanya gaya kamera yang isometrik, yang sangat mereka butuhkan hanyalah untuk memastikan bahwa atmosfer dunia yang sedang mereka kejar memang bisa membuat suatu pengalaman gaming Anda serta berujung kepada hal yang lebih baik. Dan untuk suatu urusan tersebut, mereka telah melakukan tugas dengan sangat baik. Dari mulai desain dunia, peta, sampai dengan beragam reruntuhan yang telah Anda kunjungi akan selalu dapat menawarkan suatu identitas uniknya sendiri. Kota dengan suatu kepribadian, isi penduduk, serta gaya hidup yang berbeda misalnya, dari yang mulai kaya raya sampai dengan yang tunduk di bawah garis kemiskinan serta secara brutal, sampai dengan menunggu kematian. Ia terasa begitu sangat berbeda dari game Pillars of Eternity seri pertama, yang dapat membuat keseluruhan petualangan dari game ini menjadi terasa sangat menyegarkan.

Satu hal yang lebih pantas kami acungi jempol dari game Pillars of Eternity II: Deadfire adalah bagaimana cara mereka kembali untuk menangani konsep game yang “open-world” yang dari awal, memang memungkinkan Anda untuk dapat bergerak, mencari, menemukan, serta menyelesaikan begitu banyak sekali tempat serta dungeon yang ada. Mengapa? Dikarenakan Anda tidak akan dapat memprediksi apakah di setiap tempat ini akan dapat berhubungan atau juga tidak dengan cerita yang utama yang akan Anda pilih untuk dijalankan. Berita baiknya, adalah mereka yang akan menangani hal tersebut dengan sangat baik. Begitu Anda sudah menyelesaikan beberapa misi yang telah diminta oleh bagian dari cerita misalnya, sang karakter yang terlibat akan dapat memunculkan respon yang secara otomatis untuk sedikit membicarakan dari fakta tersebut lalu kemudian akan menghitung misi tersebut sampai selesai. Hal yang sama juga bila Anda telah menemukan objek yang diminta untuk dapat dicari atau pun suatu karakter yang memang harus dibunuh misalnya. Sayangnya, ini juga akan melahirkan potensi bug game yang juga telah sempat kami rasakan.
Dilihat dari sisi presentasi, game Pillars of Eternity II: Deadfire ini memang menyiratkan suatu cita rasa yang serupa dengan seri game Pillars of Eternity pertama. Namun Anda juga bisa melihat telah ada banyak penyempurnaan juga, dilihat dari sisi musik, efek dari suara, sampai dengan detail visual yang telah ia sertakan. Namun pada akhirnya ia akan berujung menjadi game RPG (Role Playing Game) yang isometrik dan tidak pernah menjadikannya sebagai kekuatan utama game. Daya tarik game Pillars of Eternity II ini tetap mengakar kepada mekanik game RPG (Role Playing Game) yang ia tawarkan.

Kini Lebih Cerdas
Untuk para gamer yang tidak terlalu familiar dengan game Pillars of Eternity, ia merupakan game RPG (Role Playing Game) dengan pendekatan yang lawas. Ini berarti Anda tidak saja akan bertemu dengan skema di dalam dunia yang terbuka yang dapat Anda jelajahi yang berisi segudang misi sampingan yang dapat Anda selesaikan atau pun dilewatkan saja, tapi juga telah menyediakan beragam permasalahan solusi. Bahwa setiap masalah di dalam game Pillars of Eternity tidak harus selalu diselesaikan dengan hanya sekedar bertarung serta membunuh, tapi juga bisa mengandalkan daripada status karakter serta juga skill eksplorasi yang mereka miliki untuk dapat melakukannya. Status dan skill yang telah Anda bangun dengan cara meningkatkan setiap point indikator tiap kali Anda akan mendapatkan level yang lebih baru. Dengan menggunakan sistem yang seperti ini, Anda akan didorong untuk dapat meracik cerita dari game Pillars of Eternity Anda sendiri.

Bergantung kepada point seperti apa yang telah Anda distribusikan, Anda akan dapat berujung membuka sebuah opsi atau pilihan baru yang bisa membuat Anda mendorong suatu cerita tanpa harus selalu secara konsisten bertarung. Ada pertikaian di antara dua keluarga? Distribusikan point yang telah cukup untuk meningkatkan skill seperti Bluff, Intimidation, atau pun juga Diplomacy, dan Anda juga dapat mungkin bisa mendamaikan keduanya. Anda dapat menyelinap masuk untuk dapat mencuri harta karun dari salah satu perusahaan dagang, tapi masalah bertarung? Investasi point skill yang telah Anda lemparkan kepada aspek “Mechanic” untuk dapat memperkuat kemampuan lockpicking yang bisa membuat Anda tidak perlu lagi harus sibuk untuk mencari kunci utama yang telah jatuh dari pertarungan boss. Atau ketika Anda telah menemukan sebuah magic aneh yang tidak pernah Anda kenal sebelumnya, status “Arcana” serta pengetahuan Anda soalnya dapat membantu Anda untuk menangkap lebih jelas serta mungkin mencari solusi dari sana. Bergantung pada ke daerah mana Anda menginvestasikan point skill yang Anda miliki, akan ada banyak cabang dari cerita serta solusi yang mungkin bisa muncul. Bahkan dari hal yang lebih terasa “remeh temeh” seperti pengetahuan kepada soal History misalnya, yang terkadang dapat membuka opsi dari jawaban terkait sejarah yang dapat menarik simpati dari lawan bicara atau pun membantu Anda mengenali artifak acak yang akan Anda temui.
Ini sebenarnya bukanlah konsep yang asing untuk game Pillars of Eternity itu sendiri serta juga game-game RPG (Role Playing Game) Barat dengan menggunakan pendekatan yang serupa. Namun jika harus memilih satu dari beberapa penyempurnaan yang telah ditawarkan oleh Deadfire serta tidak ada di seri pertama game adalah sistem AI yang sekarang begitu adaptif pada situasi pertarungan. Mengingat game Pillars of Eternity II ini akan menuntut Anda untuk membunuh serta berburu banyak monster, pertarungan di seri pertama game akan lebih banyak mengandalkan Anda sebagai seorang pemberi perintah. Lewat sistem pause-resume untuk dapat mengatur strategi, Anda harus secara manual dapat mengatur skill apa yang harus dikeluarkan oleh tiap karakter yang telah ada, bahkan untuk para musuh yang tidak signifikan sekalipun. Sementara di game seri Deadfire ini, Obsidian telah menyuntikkan sebuah sistem AI.

Hasilnya sendiri sudah cukup fantastis. AI-AI ini terhitung cukup adaptif terhadap berbagai situasi pertempuran yang telah ada, tanpa perlu Anda perintahkan lagi satu demi satu. Jika memang kondisi seperti ini membutuhkan serta memungkinkan, mereka akan dapat mengeluarkan skill tertentu untuk dapat support, buff, healing, atau pun juga memang ditujukan untuk dapat menyerang para musuh secara berkelompok. Kerennya lagi? Ia tidak akan selalu berakhir dengan cara melemparkan skill paling terkuat misalnya, serta terkadang, skill yang lebih lemah namun bisa lebih efektif untuk dapat menunjang kemenangan pada saat bertarung. Walaupun harus diakui belum seluruhnya sempurna, mengingat karakter mage misalnya seperti Aloth misalnya, tidak jarang untuk dapat menurunkan magic berbasis AOE yang juga akan menyakiti dari karakter companion Anda yang lain.
Setiap skill yang dimiliki ini tentu bergantung kepada kelas karakter seperti apa yang Anda pilih serta Deadfire telah menyediakan segudang alternatif terhadap pengembangan karakter lewat sistem skill aktif atau pun juga pasif apa yang telah Anda pilih. Dengan setidaknya memiliki 1 Skill Point untuk setiap level serta setidaknya memiliki 2 Skill Points saat Anda telah mencapai level tertentu, ada segudang alteranatif skill lain yang bisa Anda pilih daripada 1 kelas karakter spesifik yang telah Anda pilih. Untuk sekelas seperti Mage misalnya, ada varian magic yang memiliki beragam elemen serta juga kesempatan untuk dapat memperkuat serangan mereka via skill yang pasif. Ini baru bicara tentang 1 kelas karakter. Deadfire juga telah mengusung sistem di mana suatu karakter bisa mencampuradukkan dua kelas karakter ke dalam suatu 1 ruang sama, tetapi tentu saja, hadir dengan sistem yang kompleksitas tersendiri untuk dapat dikuasai. Lewat sistem yang bernama “Empower”, sebuah resource yang terbatas hanya dapat diisi ulang dengan cara beristirahat, Anda juga dapat memperkuat efek dari tiap skill ini, dengan cara membuat damage yang lebih besar atau pun juga ruang cakup AOE-nya yang menjadi lebih luas.

Sistem game Pillars of Eternity lainnya akan mirip dengan game RPG (Role Playing Game) pada umumnya. Proses eksplorasi yang menjadi pantas berkat adanya reward beragam, seperti: aksesoris, equipment, serta senjata dari berbagai ragam tingkat kelangkaan yang sudah tentu saja akan membuat perjalanan di dalam game Pillars of Eternity Anda lebih mudah. Anda juga bisa membuat banyak pengalaman di dalam permainan Anda yang menjadi lebih sulit dengan mengatur beberapa opsi di awal game sebelum memulai perjalanan permainan Anda. Misalnya, Anda sebagai gamer bisa membuat para musuh memiliki fitur level scaling, yang dapat membuat mereka akan selalu punya level setara dengan level paling tertinggi dari karakter Anda. Atau Anda pun juga bisa membuat beberapa efek kematian menjadi lebih sangat destruktif. Ingat, walaupun ada suatu sistem “cedera” setiap kali Anda bisa tewas di mana Anda akan tetap bisa dibangkitkan namun dengan penalti pada suatu status tertentu, karakter dari Anda bisa tewas secara permanen di sini apabila Anda tidak hati-hati.
Maka baji Anda yang sempat mencicipi seri game Pillars of Eternity yang pertama akan mendapatkan pengalaman yang familiar, namun dengan implementasi dari fitur AI yang lebih baik serta adaptif. Sementara Anda yang dapat menjadikan seri dari game Deadfire ini sebagai “pintu masuk”, Anda akan dapat menemukan game RPG (Role Playing Game) yang dapat menawarkan begitu banyak cabang suatu cerita, cabang solusi untuk suatu masalah tertentu, reward yang akan sepadan untuk dapat diproses dengan menggunakan eksplorasi yang ada, dan tentu saja kebebasan membangun suatu karakter berdasarkan pada kelas karakter yang Anda pilih. Di bagian terbaiknya? Berupa Kapal!

Penguasa Lautan
Salah satu dari fitur kreatif yang sangat mengejutkan kami dan telah berakhir membuat kami jatuh cinta adalah kemampuan untuk dapat menyulap Deadfire yang notabene merupakan gugusan dari suatu kepulauan untuk dapat memperkenalkan mekanik dari gameplay yang super keren – kapal. Sebagai seorang yang Watcher, Anda tidak akan lagi hanya sekedar menguasai lagi sebuah kastil yang statis dengan beraneka ragam upgrade di dalamnya. Sebagai gantinya, “markas” milik Anda kini adalah sebuah kapal laut yang dapat Anda pergunakan untuk mengarungi lautan bebas, bisa Anda ganti serta perkuat, serta bisa Anda pergunakan sebagai “senjata” untuk dapat melawan kapal yang lainnya. Lewatnya, game Deadfire ini menawarkan sebuah mekanik dari gameplay yang sangat berbeda.

Digabung dengan menggunakan beberapa konsep yang open-world yang ada di mana Anda dapat mengekplorasi beragam belahan dunia yang ada secara bebas semenjak dari menit pertama Anda memiliki kapal Anda sendiri, walaupun di beberapa tempat akan diinformasikan juga soal tingkat kesulitan dikarenakan level para musuh yang jauh lebih tinggi, Deadfire juga menawarkan suatu tantangan yang baru serta berbeda dengan sistem di dala kapal ini. Pertama? Tentu saja adalah suatu management dari resource. Untuk bisa mengarungi betapa luasnya lautan lepas yang butuh waktu berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu (berbasiskan suatu siklus siang serta malam), Anda sudah tentu butuh memastikan bahwa Anda memiliki kru serta bahan material untuk dapat mendukung hidup kru Anda tersebut. Hal ini telah membuat begitu banyak item serta material yang tidak begitu sangat penting di seri pertama game Pillars of Eternity, kini terasa esensial di dalam game Deadfire.
Untuk perjalanan Anda yang mengarungi lautan lepas, setiap harinya Anda hanya akan mengorbankan beberapa dari sejumlah resource tertentu. Ada item, seperti: makanan, moral, minuman, obat-obatan, serta juga gaji per hari dari setiap kru yang ada. Semakin besar ukuran kapal yang Anda miliki, semakin banyak juga kru yang hidup di atas kapalnya, semakin besar juga pengorbanan dari resource yang harus bisa Anda keluarkan tiap memasuki satu hari (siklus siang serta malam). Semakin sering Anda dapat melakukan proses dari eksplorasi yang tentu saja dapat menuntut Anda untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lainnya, maka besar kemungkinan akan semakin banyak juga hari yang akan Anda lewati, serta kemudian melewati lebih banyak lagi pengorbanan dari resource. Untuk dapat memastikan bahwa resource yang tetap ada untuk dapat menyokong hal tersebut, hal-hal yang tidak penting di seri pertama game Pillars of Eternity kini memainkan peran yang lebih penting. Makanan serta minuman yang telah Anda kumpulkan di sepanjang perjalanan bisa dialihkan ke dalam kapal yang Anda miliki. Anda juga akan dapat menemukan bahwa suatu koin emas yang Anda kumpulkan dari berbagai ragam misi sampingan serta sejenisnya, akan lebih sering dipergunakan untuk dapat memperkuat kapal Anda daripada dipergunakan untuk memperkuat karakter Anda atau hanya sekedar untuk membeli bahan makanan serta minuman Anda.

Salah satu bagian paling tercerdas dari sistem ini adalah keputusan dari Deadfire untuk dapat memperlakukan kapal Anda seperti layaknya karakter yang terpisah. Ia memiliki layar equipment sendiri, yang berdasarkan besar ukurannya, akan bisa memuat banyak sekali hal. Setiap meriam yang akan Anda pasang di setiap sisi akan membutuhkan kru untuk mengoperasikannya. Kru akan dibagi lagi ke dalam beberapa kelas serta kategori, seperti: Surgeon untuk dapat menyembuhkan kru yang cedera pada saat bertempur, sampai dengan Navigator yang semakin memiliki pengalaman ia maka akan semakin cepat juga kapal Anda dapat berlayar. Anda juga akan punya slot untuk dapat memperkuat bahan untuk material kapal, layar, kemudi, kemudian lentera yang menyinari kapal, sampai dengan beragam item khusus yang dapat memodifikasi bentuk serta fungsionalitasi di kapal itu sendiri. Modifikasi ini bisa dilakukan di kota-kota pada tepi laut yang biasanya telah mempersiapkan upgrade serta kesempatan untuk membeli resource dengan sejumlah uang tertentu. Ada juga varian dari kapal yang lebih besar untuk kru serta senjata yang lebih banyak untuk dapat ditukarkan dengan puluhan ribu koin emas apabila Anda dapat mengumpulkannya.
Karena di dalam game Deadfire sendiri bukanlah suatu gugusan kepulauan yang aman. Tidak hanya menjadi suatu arena dari pertempuran untuk beraneka ragam faksi yang notabene memiliki kekuatan serta kepentingan yang berbeda-beda, Anda juga akan dapat bertemu dengan para bajak laut. Selama dapat menggerakkan kapal melewati banyak kabut-kabut wilayah untuk dapat membuka lebih banyak pulau, yang bahkan terkadang dapat menyimpan dungeon rahasia yang sangat super menggoda, Anda juga akan bertemu dengan banyak kapal-kapal yang lainnya. Sebagian besar di antaranya merupakan kapal yang telah dipimpin oleh faksi atau pun juga oleh kapten tertentu yang tentu saja bisa Anda buru apabila Anda merasa cukup percaya diri.

Lalu, apa yang membuatnya terlihat lebih keren? Karena hal ini berbeda dengan yang Anda kira, mereka tidak lantas akan membuat pertempuran kapal ini dengan suatu animasi yang setengah hati yang tentu saja akan terasa tidak cocok dengan suatu game isometrik seperti ini. Sebagai penggantinya? Semua perjalanan serta pertempuran Anda akan berbasis pada teks layaknya game Dungeon & Dragons. Anda dapat memerintahkan kapal Anda sendiri untuk melaju, berputar, serta menembakkan meriam Anda yang secara instan, menunggu waktu loading kapal, bertahan, dan lain sebagainya lewat instruksi yang berbasis teks ini. Yang Anda perlu mawas diri hanyalah sebuah “kompas” yang berada di bagian tengah peta yang akan memperlihatkan jarak serta posisi kapal yang tengah berada di dalam pertarungan ini.
Adanya kompleksitas tersendiri di dalam sistem pertempuran kapal ini. Kapal yang memiliki ukuran lebih besar memang dapat memuat lebih banyak meriam, namun kapal besar butuh beberapa kali turn hanya untuk dapat berbelok, yang selama di dalam proses ini tentu saja membuat mereka lebih rentan sekali untuk diserang. Serangan dari meriam Anda juga tidak selalu punya efek untuk dapat membuat kapal lainnya tenggelam. Ada beragam efek lainnya, seperti: mencederai bagian awak kapal, membuat layar kapal mereka terbakar, menghasilkan lubang menganga yang berada di lambung kapal, sampai dengan membuat resource mereka berhamburan jatuh. Setiap aksi selalu memiliki konsekuensinya tersendiri. Berfokus mencederai banyak awak kapal misalnya, akan dapat membuat meriam mereka kekurangan orang serta akhirnya, jumlah daripada serangan yang lebih minim. Anda selalu dapat memacu kapal Anda pada kecepatan tertinggi serta langsung menginvasi kapal-kapal yang ada, kemudian memicu suatu pertarungan yang konvensional untuk dapat menghabisi semua awak yang ada.

Bagi para gamer, ini adalah sebuah desain game Pillars of Eternity yang sangat fantastis. Menjelajahi suatu gugusan kepulauan yang tiap darinya punya kejutan yang tersendiri, dari hanya sekedar sumber pengumpulan resource sampai dungeon spesifik untuk dapat diselesaikan dengan sebuah kapal yang bertujuan menghasilkan sensasi permainan yang sangat fantastis. Tidak perlu menunggu waktu lama hingga Anda dapat merasakan dahaga untuk segera meracik kapal yang lebih kuat lagi, kapal yang lebih berbahaya, dengan banyak kru yang lebih memiliki pengalaman untuk dapat menjadi sang penguasa lautan.

Kesimpulan
Sebagai gamer yang sempat mencicipi game Pillars of Eternity seri pertama serta jatuh cinta dengan apa yang telah ditawarkan oleh Obsidian di sana, Deadfire akan berujung menjadi penyempurnaan yang dapat membuat kamu, semakin terpuaskan dengan adanya kualitas yang ada. Ia menjawab berbagai masalah seperti AI di seri game yang pertama dan membuatnya adaptif serta akan lebih nyaman dinikmati di seri kedua game ini. Sementara pada sisi lainnya, konsep dari gugusan kepulauan masif yang hanya punya budaya, penduduk, faksi, serta konflik yang berbeda kini dieksplorasi dengan cara menggunakan kapal yang juga dapat diperkuat, sembari bisa dipergunakan untuk dapat menundukkan kapal lainnya dengan cara menggunakan sistem pertarungan yang berbasis kepada teks yang sangat inovatif. Untuk sebuah game RPG (Role Playing Game) barat dengan pendekatan yang klasik, Deadfire akan dapat memenuhi mimpi banyak para gamer penggemar genre game seperti ini, terutama untuk Anda yang selalu bermimpi untuk dapat merangkai cerita serta hasil akhir seperti apa yang para gamer inginkan.

Namun sudah tentu saja, game Pillars of Eternity ini sendiri memang tidak bisa terbilang sangat sempurna. Mengingat rilis dari game Pillars of Eternity ini sudah cukup lama sekali sebelum review ini ditulis, dan telah mengalami beberapa kali update review, fakta menunjukkan bahwa masalah “klasik” yang akan kami bicarakan sudah tentu saja tidak dapat ditoleransi. Benar sekali, bahwa bug quest yang tidak akan terpisahkan dari game yang telah punya struktur yang terbuka saat ini. Ada beberapa kasus di mana quest yang menyangkut tanpa adanya alasan yang jelas serta tanpa adanya jalan keluar. Sebagai suatu contoh? Salah satu kasus yang meminta kami untuk menginfiltrasi rumah mandi serta mendapatkan informasi yang penting. Kami telah melakukannya ke dalam bentuk sekuens yang sudah seharusnya, menyelesaikannya, serta kemudian pulang melapor kepada karakter yang seharusnya. Beberapa waktu kemudian, jalur diskusi yang terkait dalam misi infilitrasi itu ternyata tidak menghilang serta dapat bertahan di dalam karakter terkait. Seolah-olah terkesan Anda belum dapat merampungkannya. Tidak jarang pula Anda akan berhadapan dengan suatu karakter yang telah menyelesaikan satu atau pun juga dua misi sebagai penyedia quest, namun telah bersikap seolah-olah lupa kepada ingatan serta meminta Anda untuk bisa memperkenalkan diri Anda kembali. Sebuah sensasi yang sangat aneh.

Game Pillars of Eternity II: Deadfire adalah suatu game RPG (Role Playing Game) yang sangat fantastis, terutama apabila Anda mencintai pengalaman RPG (Role Playing Game) klasik seperti halnya di dalam seri pertama game Pillars of Eternity atau juga mungkin, game Original Divinity Sin misalnya, atau juga game yang lebih tua lagi – game Baldur’s Gate. Setting yang terinspirasi kepada budaya Polynesia, dukungan visual serta musik yang sangat pantas diacungi jempol, dengan adanya gameplay serta cerita yang seru sudah tentu tidak akan sulit untuk dapat membuat Anda melupakan waktu luang.

Kelebihan

    Dunia Deadfire yang sangat fantastis
    Sistem permainan game dengan menggunakan kapal
    Sisi eksplorasi game dengan reward yang pantas
    Companion kini telah didukung dengan AI yang sangat adaptif
    Cerita misterius serta menarik
    Ada begitu banyak opsi pilihan untuk dapat membuat tingkat kesulitan yang lebih menantang
    Musik yang sangat keren

Kekurangan

    Bug di dalam banyak quest
    Terlalu banyak pihak yang terlibat dalam di cerita sehingga cukup dapat membingungkan

Cocok untuk para gamer: pencinta game Pillars of Eternity pertama, atau pencinta sensasi game RPG (Role Playing Game) barat klasik

Tidak cocok untuk para gamer: yang menginginkan senasi game action, tidak suka untuk membaca deretan banyak teks bahasa Inggris yang datang secara membabi buta

0 komentar:

Post a Comment